Minggu, 17 Februari 2013

Anak Kost Juga Anak Rumah

Coba baca judul di atas dengan nada lagu pada reff "Rocker Juga Manusia"...... Oh, agak maksa ya?

Setelah sekian lama vakum, akhirnya gue punya niatan kembali buat menulis di Blog yang usang ini. Belakangan gue sibuk kuliah dan main (12% Kuliah, 88% Main), jadi gak sempet nge-post lagi. Anyway, setelah cukup bosen dengan tidak-menulis-di-blog-gara-gara-kebanyakan-main, gue mengumpulkan segumpal energi untuk menggerakan jari-jemari gue di atas keyboard. Berbekal pengalaman kost gue selama kurang-lebih 5 bulan, gue bakal menuangkannya di postingan kali ini.

The Jouney Begin!

 Sebagai anak rumahan tulen dari lahir sampai lulus SMA, gue masih bisa dibilang sebagai anak yang manja. Bangun tidur masih dibangunin, cuci baju masih dicuciin, masak mie masih dimasakin, beli celana dalem masih dibeliin. Tanpa sadar, gue jadi bergantung banget sama rumah gue. Cowok kayak gini gak ada keren-kerennya bray.

Lalu tiba ketika tingkat kemandirian gue bakal diuji saat masuk masa kuliah. Gue dapet kuliah di Semarang, jauh dari rumah (di Bekasi). Gue mulai menginjakan kaki di Semarang tanggal 25 Agustus 2012 sesudah masehi. Tanggal itu pula yang menandakan dimulainya reality show tentang bertahan hidup (survive) dengan bantuan kiriman uang tiap bulan seadanya.

Iya, kejam memang.
Satu minggu pertama, kamar gue gak dipenuhi oleh bunyi perut suara lapar anak-anak kost yang kehabisan duit, tapi oleh suara ringtone call hape gue. Hape gue pagi-siang-malem gak berhenti bunyi buat nerima panggilan telepon dari ibu gue yang cewek. Beliau sangat peduli sama gue *nangis di bahu bapak kost*. (Gak! Gue gak se-sinetron itu!) Ibu gue selalu menelepon dengan membuka percakapan dengan kalimat, "Sudah makan belum?"

Ya, obrolan klasik seluruh orang tua di dunia ini lah intinya. Sebenernya sih kehidupan anak kost gak semengerikan dan semengenaskan yang orang-orang atau nyokap gue pikirkan. Oh iya, berterimakasihlah pada om Alexander Graham Bell, berkat penemuan doi, kita (anak kost) jadi selalu merasa dekat dengan rumah. Entah bagaimana suram dan gelapnya dunia ini jika telepon tidak pernah ditemukan oleh umat manusia.

My precious.
Perbedaan paling mencolok antara kehidupan kost dan kehidupan rumah adalah 'Kebebasan'. Yap! Sebagai anak kost yang gak punya siapa-siapa di tanah orang, kami pun tak lebih dari seonggok daging yang punya kartu mahasiswa (Jelek amat ya perumpamaannya). Kebebasan di sini bisa juga diartikan sebagai pedang bermata dua.

Sisi yang satunya bisa membuat hidup ini jadi lebih asyik, karena jujur pasti kalian pernah merasa terkekang oleh berbagai 'restricted area' yang diberlakukan oleh orang tua. Gak boleh pulang kemaleman, gak boleh kebanyakan jajan, gak boleh buang air sembarangan dan lain-lain. Tapi ketika sudah memasuki dunia kost, 'restricted area' itu menjadi kabur. Mungkin saat-saat seperti inilah yang tepat buat nyanyiin lagunya Simple Plan, "Welcome To My Life".

Yes, Welcome to my life.
(Yang pasti itu bukan gue)
Eett!! Ingat! Kebebasan yang ditawarkan oleh gemerlapnya dunia per-kost-an jangan sampai disalahgunakan. Dan Alhamdulillah gue sampai saat ini berhasil gaul dengan cara yang bener (dan semoga seterusnya). Karena anak kost yang hidup dengan cara yang bener ,187 kali lebih keren daripada anak kost yang salah gaul...... apalagi yang telat bayar uang sewa ke ibu kost.

Sebenernya gampang aja, cari temen yang baik pasti hidup lu bakal baik juga. Cara orang milih temen pasti beda-beda. Follow-lah orang yang punya followers baik pula.

Be good.
Masa 5 bulan gue nge-kost adalah masa-masa paling campur-aduk dalam hidup gue. Gue dapet keluarga baru, tantangan manajemen waktu yang bener-bener gak kenal ampun, memanfaatkan 15 ribu untuk memenuhi kewajiban pencernaan dalam sehari, dan jadi tau definisi sesungguhnya dari kata 'mandiri'.

Memasuki libur semester 1, gue balik ke kampung halaman untuk pertama kalinya. Ini bagaikan gue habis bertapa di goa antah-berantah dan kemudian turun dari bukit menuju ke gemerlapnya kehidupan manusia. Dengan lusuh, gue masuk ke rumah. Dan gak ada sambutan selamat datang sama sekali! (karena semua penghuni rumah lagi pada keluar). Ekspektasi berbanding terbalik realitas. *Oh God Why?*

Ekspektasi berbanding terbalik dengan realitas.
Life-skill serabutan yang gue latih selama nge-kost, gue keluarin selama berada sebulan di rumah. Entah kenapa, lama-lama gue menggantikan posisi Mbak gue gitu jadi pembantu. Walaupun gitu, tingkat keren gue sebagai laki-laki sejati jadi meningkat sebanyak 0,9%. *kibas-kibas otot*

Kini masa liburan gue akan habis dan bakal kembali ke haribaan kamar kost tercinta. Selamat datang kembali tumpukan cucian baju, stok celana dalem yang tiba-tiba abis di akhir minggu, kasur yang 2 hari sekali dirapihin, untaian kabel laptop dan charger hape yang menjuntai kemana-mana, bongkahan cucian piring yang disentuh 4 hari sekali, dan ibu kost ku yang selalu ngajak ngobrol pake bahasa jawa walaupun gue cuma bisa ngangguk-ngangguk sok ngerti doang.

Berbagai pandangan perspektif mengenai kamar kost.
Jadilah kacang yang selalu ingat dengan kulitnya. Sejantan apapun anak kost, dia pasti akan rindu dengan rumah. Jangan pernah sia-siakan waktu berharga lu sama keluarga di rumah. Karena beberapa jam manisnya bersama keluarga di rumah adalah baterai untuk hidup beberapa hari di tanah orang. Dan selamat datang semester 2!!!!

1 komentar:

  1. pesan yg dibungkus dgn humor is nice and not boring for reader.
    thanks...

    BalasHapus