Minggu, 16 September 2012

Ciptakanlah Masa Depanmu Sendiri!

Create Your Own Future!

STAR Training
Itulah tema character building dari rangkaian acara Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Fakultas Sains & Matematika (FSM) Undip Tahun 2012-2013. Gue bakal menceritakan ulang berbagai pengalaman langka yang gue alami waktu itu. Sekaligus berbagi motivasi, semangat, dan kebahagiaan. Ini bukan kisah gue sendiri. Inilah adalah kisah dari 700 lebih mahasiswa baru FSM yang berkumpul, mengenal satu sama lain, dan melangkah step by step menjemput impian mereka.

Delapan hari yang lalu (8/9/12) gue berangkat dari kost sekitar jam tujuh pagi. Bareng sama temen satu SMA gue dulu, Ari. Tempat acara character building ini berlokasi di Gedung LPPU yang gak terlalu jauh dari gerbang utama Undip.

Sabtu itu cuacanya cerah. Cuaca kayak gini emang bikin mood booster banget. Oh iya, sebagai syarat ikut character building ini, kami para mahasiswa baru harus bikin Life Mapping terlebih dahulu. Itu loh kayak rencana hidup 5-10 tahun ke depan. Gue pun sudah menyelesaikannya semalam suntuk. Ya, mungkin bakal gue ceritain di postingan gue lain.

Life Mapping gue yang mengambil
tema timeline Facebook
Gue dan Ari tiba di Gedung LPPU yang sudah ramai-padat. Gue langsung mencari kelas gue pas PMB kemarin, yaitu kelas D. Ya, sebenarnya PMB ini sudah dimulai dari tanggal 27 Agustus kemarin. Di hari pertama PMB itu, diawali dari upacara penerimaan oleh Rektor Undip langsung.
Hari kedua (tangal 28 Agustus) sampai hari kelima (tanggal 31 Agustus) PMB dipecah jadi beberapa kelas yang isinya anak-anak mahasiswa baru dari berbagi jurusan. Gue dapet kelas D.

Kelas yang berisi 112 orang itu menjadi gerbang awal pergaulan gue di kampus ini. Gue dan Ari gak sekelas, jadi gue bener-bener kayak anak ilang yang gak kenal siapa-siapa. Tapi gue gak sendiri. Banyak juga temen-temen baru gue yang semacam anak ilang. Meet and Greet mahasiswa-mahasiswa baru dari berbagai nusantara itu bener-bener gak terlupakan di ingatan gue.

Bukan! Ini bukan korban banjir. Ini Kelas D
Serius! Beda banget kayak MOS SMA gue dulu yang masih pada malu-malu, di PMB ini semua
mahasiwa baru (Maba) bener-bener putus semua urat malunya. Nghahaha, dari mulai si Eko yang selalu ngenalin dirinya beratus-ratus kali sebelum bertanya di sesi tanya-jawab. Gak cuma itu, si Eko ini juga punya senam khas yang bikin semua penghuni kelas D ini jadi semacam perkumpulan idiot, yang juga ngikutin senam dari seorang idiot sejati. Ada juga si Andy, manusia bulat sempurna dari Medan ini bener-bener tau caranya bikin gimana suasana Ospek gak garing. Walaupun kadang-kadang gue pengen nembak shotgun tepat di kepalanya gara-gara tingkahnya yang bikin gue nyaris mati ketawa. Terus si Johan, anak Jepara yang punya julukan "Senyum Pepsodent" ini cuma punya satu keahlian: Nyengir. Ya, trendmark si Doi ini bener-bener jadi kartu as kalo lagi di foto sama para Senior. Sekali nyengir, hanguslah sudah lensa kamera tersebut. Dan ada juga temen gue yang namanya Rifqi. Dia biasa dipanggil 'Ciqi'. Gue dan dia serta semua orang di kelas D ini juga gak tau kenapa dia dipanggil Ciqi. Nama yang bener-bener aneh. Tapi si Ciqi ini jadi sahabat terdekat gue  selama PMB berlangsung. Tingkahnya yang kayak pegulat Smack Down kena tumor payudara ini yang bikin gue betah ngobrol sama Doi.

Ya, itu adalah sebagian kecil dari temen-temen gue di kelas D yang bener-bener jadi bumbu terbaik di PMB ini. Kalo gue kenalin semuanya, bisa luber dan dicekal Blog gue ini.

Memasuki Gedung Serba Guna
Oke! Balik lagi ke character building tadi. Setelah gabung sama kelas D, para Senior pun langsung menggiring kami masuk ke dalam Gedung Serba Guna. Tapi, gara-gara rombongan anak-anak kelas D yang leletnya kayak Bekicot kena radang otak ini, gue dan yang lainnya dapet tempat duduk di paling belakang deket operator panggung. Tapi, kelak kami menyadari ada hikmahnya juga dapet tempat di belakang sini. Nanti bakal gue ceritain.

Acara dibuka dengan sambutan Dekan dan Pembantu Dekan FSM Undip. Dari sini intense acara character building mulai naik. Semakin naik pas nanyi lagu 'Indonesia Raya' rame-rame. Setelah itu, akhirnya siap-siap masuk ke acara utama: Motivation Training dari Pak Edy. Motivator Nasional ini sudah berkeliling nusantara berbagi kisah inspiratifnya kepada berbagai golongan. Dari mulai anak kecil yang baru belajar nyabut bulu ketek orang tuanya, hingga para profesional pengusaha yang sedang butuh dorongan untuk membangung perusahaannya lebih baik lagi. Seenggaknya itulah yang gue tangkep dari proyektor yang memutarkan biodata beliau. Sebelum beliau naik, ternyata kami harus berdiri dan senam.

Hiduplah Indonesia Rayaaaa...

Hah!!? Gue ketawa aja dalem hati. Tapi Maba-Maba FSM ini pada enjoy semua. Yaa, jadi gue ikut-ikutan enjoy juga dah. Entah itu senam peregangan otot atau latihan silat tingkat dasar. Gerakan-gerakannya yang bisa bikin peserta kiri-kanan gue berdarah-darah itu sukses bikin riuh dan semangat lagi. Dengan chants "Enaaammmmm? Tujuh Delapan!" bener-bener merubah mindset gue, kalau senam di dalem ruangan pake seragam hitam-putih itu gak terlihat bodoh. Tapi terlihat sangat ritmis dan keren.

Selesai senam yang gaduh itu, akhirnya Pak Edy naik ke panggung. Tata panggung, pengaturan efek suara dan pengenalan profil yang dieksekusi sangat baik oleh para panitia membuat kemunculan Pak Edy mendapat ekspektasi yang sangat besar dari para Maba, termasuk gue. Ekspektasi apakah beliau berhasil memenuhi hati dan pikiran kami ini dengan semangat yang luar biasa baru atau hanya jadi motivator garing yang cuma bisa mengutip kata-kata Mario Teguh dan sukses mengantarkan kami semua ke nyenyaknya tidur siang. Itu semua akan terjawab selama kurang-lebih 5 jam Motivation Training itu.

The Motivator
Pak Edy membukanya dengan basa-basi yang cukup baik. Beliau berkata kalau Maba FSM ini adalah anak-anak luar biasa. Ya, memang klise tapi gue masih mencoba mengikutinya. Kemudian beliau berbicara tentang 'Komitmen'. Ya, karena sukses itu berdasarkan komitmen kuat dari manusia yang ingin menjemput sukses itu sendiri. Kami semua pun disuruh untuk menulis komitmen kami masing-masing sebelum lulus dari Undip di sebuah note yang diberikan oleh kakak Senior tadi sebelum masuk ke Gedung Serba Guna ini.

Gue pun menuliskan "Aku ingin menjadi Rektor sebelum lulus kuliah." Gue lihat kiri-kanan gue. Ada yang berkomitmen IP-nya bisa di atas 3.8, ada yang ingin buka usaha penyewaan rambut palsu, ada juga yang ingin menjadi presiden BEM. Ya, itu semua adalah komitmen kami semua para Maba sebelum lulus dari Undip ini. Kemudian Pak Edy, menyuruh menambahkan kata "Tapi" di belakang kalimat komitmen tadi. Pak Edy menjelaskan bahwa jalan menuju sukses itu tidak semudah yang kita bayangkan. Jadi, kita harus berpegang teguh pada komitmen tersebut dan bersiap-siap mengadapi tantangan terbesar yang akan menimpa kita.

'Coretan' gue di character building itu
Ya, tantangan terbesar adalah ada di kata "Tapi" yang kami tuliskan. Seperti: "Aku ingin menjadi Rektor sebelum lulus kuliah, tapi aku sendiri belum bisa mengurus diriku sendiri dengan baik." Ya, itulah yang dimaksudkan Pak Edy. Kita sudah dewasa. Selain optimis, kita juga harus realistis. Setelah kita berkomitmen, kita juga harus tau hal apa yang akan menimpa kita di perjalanan menuju kesuksesan, maka kita akan bisa bersiap-siap terlebih dahulu. Satu langkahlah lebih maju daripada yang lain. Mulai dari situ, gue semakin tertarik dengan Pak Edy ini.

Kemudian beliau menjabarkan 3 Tingkat Manusia:
  1. Komitmen Sukses
  2. Memilih Sukses
  3. Ingin Sukses
Tingkatan itu adalah level semangat kita menuju sukses. Apakah hanya 'Ingin Sukses' saja, atau cuma 'Memilih Sukses', atau bener-bener 'Komitmen Sukses!'. Maka ketika Pak Edy bertanya "Siapa yang ingin sukses?" Hanya anak-anak yang gak merhatiin dengan baiklah yang mengangkat tangannya. Gue gak angkat tangan karena gue 'Komitmen Sukses'. Maka ketika Pak Edy bertanya lagi "Siapa yang berkomitmen untuk sukses?" Maka semua makhluk bernyawa di Gedung ini mengangkat tangannya. Walau tak sadar seberapa busuk bau ketiak mereka.

Tingkat ketertarikan gue pada Motivation Training ini sudah di tingkat yang nyaris maksimal. Meningkat lagi ketika Pak Edy menyuruh kami menuliskan apa yang beliau ucapkan.
Orang sukses adalah mereka yang berkomitmen mewujudkan impiannya dan siap menghadapi kenyataan yang terjadi. Sedangkan orang gagal selalu mencari alasan yang membuat dia berhenti dan menemukan pembenaran.
Deg! Gue berdebar. Jadi selama ini gue masih di tingkatan orang gagal. Ya, gue selalu mencari alasan. Misal ketika nilai ujian gue jelek. Gue selalu bilang "Wah semalem gue gak belajar sih" atau "Yah ujiannya mendadak banget sih, pak". Tanpa sadar, itulah sifat-sifat orang gagal. Selalu mencari alasan. Sedangkan orang sukses selalu berkomitmen dan siap menghadapi kenyataan yang terjadi. Mulai saat ini, gue berjanji untuk merubah pola pikir gue. Ya, ini bener-bener character building yang kena sasaran banget!

Berpikir dalem hati tadi, membuat gue ketinggalan apa yang disampaikan Pak Edy selanjutnya dan langsung beranjak ke kalimat kedua yang juga harus kami catat.
Ya Allah, Tuhanku. Aku bersyukur kepadamu karena hari sabtu (8 September 2012) Aku memutuskan menjadi orang yang siap berkomitmen 100% untuk meraih mimpi-mimpiku di masa depan, Amin.
Kemudian kami berdiri dan mengucapkan kalimat tersebut beramai-ramai. Sama seperti kalimat yang pertama tadi. Gedung ini menjadi bergema. Bergema akan teriakan semangat para Maba yang mirip seperti sapi ketika dipotong saat Idul Adha. Setelah itu, slogan "100%" menjadi tengiang-ngiang di kepala kami. Bukan 51% ataupun 90%, tapi 100%-lah kesiapan kami menjaga dan memperjuangkan komitmen yang sudah kami tulis tadi.

Motivasi-motivasi tadi terus belanjut. Ternyata ekspektasi yang diharapkan oleh para Maba, apakah Pak Edy ini jadi motivator yang benar-benar baru ataukah cuma jadi motivator garing terjawab sudah. Ya, beliau benar-benar baru. Dalam seumur-umur gue dateng ke acara Motivation Traning, baru kali ini gue bener merasa termotivasi. Karakter dalam diri kami benar-benar dibongkar. Dibongkar dan disusun kembali sesuai komitmen yang siap kami jalani 100% dan menghadapi semua kenyataan yang terjadi.
 
Before-After
Sifat temen-temen kelas D yang duduk di sekitar gue pun menjadi berubah. Itu tersirat jelas di raut muka temen-temen gue yang kucel dan penyok ini. Mereka terlihat berapi-api dan seperti tak kenal takut untuk menghadapi dunia perkuliahan besok dan mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Untuk sesaat, gue merasa ada di sekitar orang-orang terhebat yang pernah gue kenal seumur hidup.

Di sesi selanjutnya. Pak Edy bertanya kepada para peserta Character Building ini "Siapakah orang-orang yang selalu setia menunggu kesuksesan anda terwujud? Tuliskan itu dan definisikan siapa dia"

Beliau memang sama sekali tidak menyebut kata "Orang Tua", tapi gue yakin. 700 lebih Maba FSM ini pasti menuliskan nama ayah atau ibu mereka untuk menjawab pertanyaan Pak Edy tersebut. Gue pun sama. Gue menuliskan Muhlisoh, nama ibu kandung gue. Satu-satunya wanita yang melahirkan gue dan mendidik gue bagaimana caranya hidup di dunia yang Random ini.

Jawaban yg gue tulis
Seketika, Gedung Serba Guna ini dipenuhi oleh isak tangis bervolume kecil dari temen-temen gue. 5 menit lalu, sifat mereka berapi-api layaknya perajurit perang. 2 jam lalu, sifat mereka seperti bekicot kena radang otak. Tapi sekarang, semua itu berubah. Mereka semua luluh menangis ketika menuliskan nama orang tua mereka serta definisi, peran, dan apa saja do'a mereka hingga kami semua bisa duduk disini. Duduk menjadi bagian keluarga besar Universitas Diponegoro, salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia.

Eko, Andy, Johan, Ciqi dan yang lainnya langsung diem semua. Gue melihat Johan yang duduk di sebelah kiri gue benar-benar menangis. Gue kira dia lagi pilek, ternyata beneran nangis! Gue lihat Andy di belakang gue juga nangis dengan tak tertahankan. Mungkin cuma gue, cuma gue yang gak nangis. Gue tulis nama ibu gue dan siapa beliau. Ketika masuk ke definisi serta peran apa aja yang beliau lakukan buat gue sampai gue disini, tangan gue gak bisa gerak. Bukan! Bukan berlebihan, tapi memang itu kenyataannya.

Adegan ini nyata tanpa rekayasa
Terlalu banyak. Terlalu banyak peran beliau dalam hidup gue, mungkin melebihi peran gue sendiri. Gue bingung mau nulis dari mana. Walaupun gue tulis, note itu gak bakal cukup. Jadi gue memutuskan gak menulis apa-apa dan cuma melihat nama ibu gue yang tergores disitu. Gue merem dan mengingat semuanya. Semuanya, dari gue gak bisa ngomong "R" sampai gue bisa bolak-balik Bekasi-Semarang sendirian. Ya, memang gue gak kunjung nangis. Gak ada satupun air mata gue yang jatuh. Oke, lu boleh bilang gue ini orangnya gak romantis. Tapi, di momen itu gue merasa sengat dekat dengan ibu gue. Terlihat, tapi tak terlihat.

Selesai menulis tentang "Orang-orang yang setia menunggu kesuksesan kita terwujud." Kami disuruh berdiri dan membacakan apa yang kami tulis kepada temana disampingnya. Mati! Gue cuma nulis nama ibu gue doang. Sedangkan temen gue sudah ada yang sampe 4 halaman. Ya, dengan setia gue mendengar cerita mereka. Gedung kembali gaduh. Namun gaduh yang berkualitas. Karena setiap kisah mereka dan orang-orang yang setia menunggu mereka, tertulis dengan segenap perasaan dan dibacakan dengan penuh emosional kepada teman-teman terdekatnya. Gue merasakan inilah manusia yang sesungguhnya. Kadang kita berjalan sendiri, namun kelak pasti ada seseorang yang menunggu kita di garis akhir. Menunggu dan meletakan tangannya di bahu kita seraya berkata "Selamat!"

Ya, orang tersebut adalah 'mereka'
Akhirnya gue cuma bisa mendengar. Mendengar kisah temen-temen gue sambil tersenyum dan tertawa kecil. Kemudian saling berbagi tanda tangan. Setelah itu kami membuat formasi lingkaran layaknya pemain bola menjelang pertandingan krusial. Awalnya hanya 4 orang, tapi kemudian banyak yang bergabung hingga memebentuk lingkaran besar. Lalu kami mengikuti kata-kata dari Pak Edy sembari teriak-teriak bahagia dengan mata merah merah pasca menangis tadi. Rotasi emosional tergambar jelas disini. *Setel lagu Celine Dion - To Love You More*
Ya Allah, Tuhanku. Kini aku menyadari bahwa untuk dapat membahagiakan orang-orang yang mencintaiku dan dengan setia menunggu keberhasilanku, maka aku harus segera mewujudkan komitmen 100% dengan sesegera mungkin! Amin!!!!!
Mari bertepuk tangan untuk Orang-orang yang setia tadi. Orang-orang yang sudah berkali-kali kita kecewakan, berkali-kali kita sakiti dan berkali-kali kita acuhkan. Tapi mereka tetap mendorong kita dari belakang, merangkul tangan kita saat jatuh, dan memberikan senyum tertulus saat kita menangis. Merekalah orang-orang yang patut kita perjuangkan. Merekalah tujuan awal dan akhir dari hidup kita yang singkat ini.

Motivation Training itu di break sebentar karena sudah azdan Dzuhur. Dan inilah bagian terbaik dari acara kampus bagi seorang anak kost: Makan Siang Gratis!!! Dengan brutal-nya kami habiskan nasi kotak itu. Tanpa sadar, obrolan gue dengan temen-temen gue jadi berkualitas. Biasanya kami cuma ngobrol ngalor-ngidul gak jelas, namun yang ini beda. Kami mulai berbicara tentang proyek-proyek apa saja yang akan kelak kami bangun. Belum selesai acara Motivation Training ini, namun manfaatnya sudah kami rasakan. Thumb's Up deh buat Pak Edy ini.

Nafsu gak santai anak kost ketika melihat makanan gratis
Setelah solat Dzuhur dan Istirahat sebentar. Kami kembali masuk ke Gedung tempat acara berlangsung. Di sesi ini kami diajak kembali bersenam. Tapi kali ini gue gak ketawa dalam hati lagi. Gue gak menertawakan senam bodoh ini. Justru gue sangat menikmati dan bersemangat banget. Indahnya jika semua kompak. Setelah itu Pak Edy kembali naik. Gue udah gak sabar, materi apa lagi yang akan disampaikan beliau.

Di sesi ini beliau menghadirkan beberapa video. Seperti kisah Lena Maria, perempuan yang terlahir tanpa lengan ini tumbuh menjadi wanita yang hebat. Dia tidak mengeluh kepada Tuhan kenapa dia tidak dilahirkan sempurna seperti orang kebanyakan. Si Lena Maria ini jutsru terlihat sangat menikmatinya. Menikmati hidup yang langka dan berharga ini. Kemudian potongan scene dari film Harry Potter and The Chamber of Secrets. Penulis cerita Harry Potter, JK Rowling adalah seorang wanita karir tersukses di negaranya. Berawal dari perusahannya yang bangkrut, dia mencari alternatif lain yaitu sebagai seorang penulis. Puluhan penerbit menolak naskahnya karena dianggap terlalu 'fantasi'. Tapi lihat sekarang! Novelnya menjadi sastra terlaris sepanjang sejarah umat manusia. Kemudian foto Colonel Sanders. Pasti banyak yang bertanya "Siapa sih si Sanders ini?". Beliau adalah kakek-kakek tua di logo KFC. Mantan tentara ini menawarkan resep ayam gorengnya lebih dari 90 restauran di Amerika dan selalu ditolak. Bayangkan jika beliau berhenti di restoran yang ke-90? Mungkin kita seumur hidup hanya bisa makan ayam goreng enak di warung pecel lele saja.

Orang-orang yg berkomitmen dengan mimpinya
Itu adalah contoh orang-orang kuat yang memperjuangkan mimpi-mimpi mereka. Berkomitmen untuk sukses secara 100%. Setelah itu Pak Edy mengucapkan sebuah kalimat yang saat ini masih bergema di dalam kepala gue. Kira-kira seperti ini
Berhati-hatilah dalam bermimpi. Karena kekuatan mimpi itu sangat menakutkan. Ya, kekuatan mimpi adalah: dapat menjadi kenyataan! Mimpi muncul dalam hati orang-orang yang 'ingin'. Tapi mimpi terwujud dalam hidup orang-orang yang 'komitmen'.
Karena mendengar itu, gue bersumpah untuk menceritakan ulang dan berbagi pengalaman ini kepada setiap orang. Ke orang-orang yang belum bisa hadir di Gedung LPPU itu. Dan akhirnya gue laksanakan sumpah tersebut.

Ya, berhati-hatilah dalam bermimpi. Karena mimpi itu bisa menjadi kenyataan. Setelah wejangan badai tersebut. Pak Edy menampilkan berbagai tipe-tipe mahasiswa. Seperti Mahasiswa 6 Bahasa, Mahasiswa 1 Milyar. Mahasiswa Peraih Nobel. Mahasiswa Tamat Al-Qur'an. Mahasiswa Keliling Dunia. Mahasiswa Duta Besar dan lain-lain.

Kami pun disuruh menentukan tipe mana mahasiswa yang akan kami pilih. Gue menulis Mahasiswa 10 Milyar Dollar serta Mahasiswa Pencipta & Penemu. Setelah itu kami disuruh membacakannya kepada teman-teman disekitar kami sekaligus saling tukar note dan menuliskan kata-kata semangat dibawah 2 tipe mahasiwa yang kami pilih tadi. Gue pun menuliskan satu kalimat di note temen-temen gue yang saling tukeran. Cuma 1 kalimat singkat: "Tak ada kemenangan tanpa pengorbanan."

AKU ADALAH.....
Ketika waktu sudah habis dan note gue kembali lagi ke tangan gue. Gue melihat note gue yang kayak jadi arena Perang Dunia II. Begitu ramai dan berantakan. Nghahaha, tapi gue sangat berterima kasih karena dapetin banyak banget kata-kata semangat dari temen-temen gue. Luar bisa maksimal!

Di penghujung acara. Kami kembali disuruh berdiri dan merangkul teman kiri dan kanan kami. Inilah bagian favorit gue di acara itu. Slide proyektor menampilkan lirik lagu "Buka Semangat Baru" dari Ello dkk. Ya, ini adalah lagu yang paling gue suka ketika masih SMA dulu. Waktu kelas X (Djongoz Party) Gue pernah menyanyikannya di depan kelas pas pelajaran Kesenian, walaupun dieksekusi dengan kacau dan jadi senjata pemusnah massal bagi temen-temen sekelas gue. Kini lagu itu dinyanyikan ulang bersama temen-temen baru gue. 700 lebih Maba FSM yang menjadi temen seperjalanan gue, melepas character building yang sarat tawa, tangis, semangat dan tekad itu dengan sangat kompak.

ROCK!!!
Lagu "Buka Semangat Baru" itu dimulai. Gue yang udah sangat hafal inipun dikasih microphone sama Mas-mas operator panggung. Ya, inilah hikmah duduk di belakang deket operator. Dua mic yang dikasih jadi senjata kami untuk membuat telinga peserta lainnya berdarah-darah dengan suara fals dan hina dari kelas D ini.

Setelah itu Pak Edy turun diiringi tepuk tangan yang dahsyat, dan dilanjutkan ke acara penutup. Pembantu Dekan naik dan mengajak kami menyanyikan lagu "Laskar Pelangi". Entah kenapa, berbeda dari lagu yang sebelumnya. Disini badan gue merinding. Merinding karena lirik lagu tersebut yang pas banget buat kita-kita yang lagi bersiap-siap untuk komitmen dengan mimpi kita.

Para bekicot penderita radang otak
Acara terus mengalir hingga selesai. Kakak-kakak senior yang kocak parah, temen temen sejurusan Teknik Informatika yang kompak abis, dan kawan-kawan kelas D yang gak ada matinya, sukses bikin ending acara ini bukan kayak Ospek, tapi lebih kayak Wisuda. Gila-gilaan dan menumpahkan semua hal yang ingin kami lakukan di Sabtu itu.

Sembari menunggu antrian salam-salaman dengan para dosen dan kakak panitia. Gue dan anak-anak Kelas D lainnya, konser serabutan di belakang macam anak gak berpendidikan. Gak cuma Kelas D, tapi semuanya. Semua anak FSM yang sepertinya otaknya juga gak berfungsi dengan baik menjadi bagian cerita terceria dalam kisah dunia perkuliahan gue.

Bagian terbaik dari segaris hidup: Teman
Berkat hari itu, gue merasa sangat siap. Siap untuk berkomitmen sukses. Siap untuk menghadapi kenyataan yang terjadi. Siap untuk mengeluarkan 100% diri gue. Siap menepati janji kepada orang-orang yang setia menunggu gue. Siap mewujudkan mimpi yang dengan hati-hati gue ucapkan. Siap menjadi diri gue sendiri dan melebihi apa yang udah gue capai sekarang. Siap untuk merealisasikan Life Mapping yang semalam suntuk gue kerjain. Siap bertemu temen, kawan, dan sahabat gue di persimpangan kesuksesan kelak...


Mimpi gak akan keren kalau gak membuatnya jadi nyata!

7 komentar:

  1. tulisan yang bagus~
    selalu beritahukan pada dunia ya.

    semangat berkarya~ ^^

    BalasHapus
  2. kereen nam, sering-sering ngeblog ya ngahahaha

    BalasHapus
  3. bagus bro, setelah gw baca dari atas sampe bawah jd berasa menjadi salah satu pesertanya. dan yg terpening jd menggugah kembali semangat dan asa utk meraih mimpi. thanks a lot, keep writing!

    BalasHapus
  4. Terharu mas :') tulisannya bagus. ditambah lagi saya maba undip fsm tahun ini. Tapi belum ada seperti itu. :'D

    BalasHapus
  5. Terharu mas :') tulisannya bagus. ditambah lagi saya maba undip fsm tahun ini. Tapi belum ada seperti itu. :'D

    BalasHapus