Pasti semua jawaban kita hampir rata-rata sama. Ya, "Ingin membahagiakan orang tua", "Jadi orang sukses", "Berguna bagi bangsa serta agama" dan lain-lain.
Klise bukan? Tidak apa-apa karena itu memang jawaban terbaik yang kita punya.
Tapi bagaimana bila dalam perjalanan dan perjuangan untuk membuktikan jawaban yang tadi kita berikan kepada guru, saudara atau kakek kita ternyata menemui kegagalan yang sangat luar biasa besar?
Cobalah sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, "Mengapa kita jatuh?"
Agar lebih konkret, maka gue akan mengambil contoh perjuangan gue untuk meraih bangku kuliah yang ternyata mengalami berbagai macam kegagalan.
Kisah wajib akademis gue diakhiri di bangku SMA kelas 3. Sebuah launcher yang diberikan oleh pemerintah untuk menyambut Ujian Nasional (Yang Alhamdulillah gue LULUS dengan baik) dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri―SNMPTN.
Lebih dari 600.000 siswa dari seluruh penjuru Indonesia mengikut SNMPTN ini. Dan hanya sekitar 150.000 bangku saja yang tersedia. Secara kasar, kemungkinan masuk adalah 1:4. Tapi jika peserta memilih jurusan seperti Kedokteran, Ilmu Komputer, Teknik dan jurusan favorit lainnya, maka rasio untuk masuk menjadi berkali-kali lipat lebih kecil.
![]() |
PTN = Perguruan Tinggi Negeri |
Tentu temen-temen sudah sering denger dari guru, orang tua, pembimbing les, ataupun kakak kelas, kalau memilih jurusan untuk kuliah itu harus sesuai minat sama bakat biar gak menyesal. Gue pun gak menyia-nyiakan 'wejangan' tersebut.
![]() |
Kuliah harus sesuai minat dan bakat |
Tapi show must go on. Gue dateng ke ruangan ujian dan gue kerjakan semaksimal mungkin. Pulang dengan rasa optimis dan was-was, gue menunggu selama 25 hari sampai pengumuman SNMPTN keluar.
![]() | |
Penantian panjang yang penuh dengan kegundahan |
Sereal gue terasa hambar banget. Gak tau apa itu udah basi apa emang gue masih shock banget abis nerima kegagalan itu. Pikiran gue kosong. Selang beberapa menit, handphone gue bunyi gak henti-henti. Banyak SMS yang masuk dan rata-rata nanya, "Gimana bray?? Dapet gak..?". Jari-jemari gue masih lemes banget jadi gak bisa bales SMS-nya. Kemudian gue tidur. Gue tidur bukan karena ngantuk, tapi karena sudah ingin cepat-cepat melewati malam gelap dan kelam ini.
![]() |
Poker Face pasca pengumuman SNMPTN |
Ternyata banyak temen deket gue yang berhasil tembus SNMPTN. Tentu gue seneng, tapi juga sekaligus marah. Marah kenapa gue gak bisa kayak mereka.
![]() |
Screenshot of the year anak-anak SMA lulusan tahun 2012 |
![]() |
Begitu kecil dan tak berharga. |
- "Why do we fall?" (Mengapa kita jatuh?)
- Si Bruce Wayne pun cuma diam tidak tahu apa jawabannya.
- Lalu Alfred memberikan jawaban yang revolusioner banget:
"So that we learn to rise" (Agar kita belajar untuk bangkit)
![]() |
The most epic scene in the Batman's Trilogy |
Bener juga ya, saat ini gue masih pelajar. Dan pelajar pekerjaannya adalah belajar. Termasuk "Belajar untuk bangkit". Mungkin berbagai kegagalan ini adalah soal dari Yang Mahakuasa. Dan gue harus segera memberikan jawabannya. Ya benar! Jawabannya cuma satu, yaitu Bangkit.
Gue buka meja belajar gue yang gak pernah gue sentuh pasca rentetan kegagalan itu dan gue liat kartu peserta SNMPTN gue. Gue lihat di pilihan jurusan gue. Ya, memang gue gagal di Ilmu Komputer-UGM. Tapi bagaimana kalau di Teknik Informatika-UNDIP?
![]() |
Selalu ada kesempatan besar walau kadang-kadang tidak terlihat. |
Seminggu kemudian, gue dateng ke tempat tes dan gue kerjakan 100 soal penentu masa depan gue. Entah kenapa saat itu gue yakin banget. Gak kayak waktu ngerjain soal SNMPTN ataupun SIMAK UI. Mungkin benar, bukan masalah apa yang ada di sekitar diri kita, tapi apa yang ada di dalam diri kita. Diri gue udah dipenuhi oleh semangat untuk bangkit. Terlalu penuh sampai-sampai gue kebelet kencing selama tes itu.
Dan Yeah!! Ketika hari pengumuman tiba, menjadi hari paling membahagiakan dalam hidup gue (Setelah hari gue dibeliin PS2, tentunya). Gue diterima di Teknik Informatika-UNDIP.
![]() |
My huge step |
Memang gue gak bisa meneruskan rantai UGM dari kakak gue. Ya, kakak gue kuliah di UGM dan gue gak bisa mengikuti jejaknya. Gue juga gak bisa jadi anak Depok (UI) ataupun jadi anak Bandung (UNPAD). Tapi Allah mengijinkan gue buat jadi anak Semarang (UNDIP).
Jawaban dari pertanyaan "Apakah tujuan hidupmu?" yang gue jawab dengan "Jadi sarjana dari perguruan tinggi negeri" Hampir mendekati kenyataan. Sekarang gue udah keterima di Perguruan Tinggi Negeri dan hanya tinggal menempuh beberapa tahun lagi sebelum menyandang gelar sarjana. Ya! Manusia akan semakin kuat jika impiannya makin besar. Scene antara Alfred dan Bruce Wayne di film Batman Begins tadi menjadi katalis akan kebangkitan gue. Rise!!!
![]() |
RISE |
Mengapa Kita Jatuh? ― Agar Kita Belajar Untuk Bangkit
kalo msh galau sama apa yg kita jalanin gmna bos?
BalasHapusmirip juga kisah kita, haha
BalasHapusbedanya gue diterima di PNJ
so true! so right! sama kak, undip juga akhirnya :D
BalasHapus