Kamis, 09 Agustus 2012

Mengapa Kita Jatuh?

Jika ada seorang guru, saudara, atau kakek anda yang bertanya, "Apakah tujuan hidupmu?"
Pasti semua jawaban kita hampir rata-rata sama. Ya, "Ingin membahagiakan orang tua", "Jadi orang sukses", "Berguna bagi bangsa serta agama" dan lain-lain.
Klise bukan? Tidak apa-apa karena itu memang jawaban terbaik yang kita punya.

Tapi bagaimana bila dalam perjalanan dan perjuangan untuk membuktikan jawaban yang tadi kita berikan kepada guru, saudara atau kakek kita ternyata menemui kegagalan  yang sangat luar biasa besar?
Cobalah sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, "Mengapa kita jatuh?"
Agar lebih konkret, maka gue akan mengambil contoh perjuangan gue untuk meraih bangku kuliah yang ternyata mengalami berbagai macam kegagalan.



Kisah wajib akademis gue diakhiri di bangku SMA kelas 3. Sebuah launcher yang diberikan oleh pemerintah untuk menyambut Ujian Nasional (Yang Alhamdulillah gue LULUS dengan baik) dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri―SNMPTN.

Lebih dari 600.000 siswa dari seluruh penjuru Indonesia mengikut SNMPTN ini. Dan hanya sekitar 150.000 bangku saja yang tersedia. Secara kasar, kemungkinan masuk adalah 1:4. Tapi jika peserta memilih jurusan seperti Kedokteran, Ilmu Komputer, Teknik dan jurusan favorit lainnya, maka rasio untuk masuk menjadi berkali-kali lipat lebih kecil.

PTN = Perguruan Tinggi Negeri
Di antara 600.000 murid itu, gue pun termasuk ambil bagian. Gue mengambil jalur IPA dan memilih jurusan Ilmu Komputer di UGM dan Teknik Informatika di UNDIP sebagai pilihan kedua. Ya, benar. Gue itu emang dari kecil interest banget sama yang namanya dunia digital. Karena itu, pilihan jurusan pun gue gak jauh-jauh dari komputer.

Tentu temen-temen sudah sering denger dari guru, orang tua, pembimbing les, ataupun kakak kelas, kalau memilih jurusan untuk kuliah itu harus sesuai minat sama bakat biar gak menyesal. Gue pun gak menyia-nyiakan 'wejangan' tersebut.

Kuliah harus sesuai minat dan bakat
Sebelum gue mendaftar SNMPTN, gue melihat dulu resiko di jurusan komputer ini. Ternyata peluang masuknya sangat kecil karena peminatnya yang rata-rata di atas seribu orang. Bahkan di Universitas besar seperti UI, UGM dan ITB, jurusan komputer ini dibilang yang paling sulit masuk setelah Kedokteran. Menyadari jalur yang gue tempuh bukan jalur bebas hambatan, gue pun belajar setengah meninggal. Walaupun gue akhirnya sadar ketika H-7 sebelum pelaksanaan SNMPTN (12 Juni 2012) belajar gue masih kurang. Banyak materi yang belum gue kuasai.

Tapi show must go on. Gue dateng ke ruangan ujian dan gue kerjakan semaksimal mungkin. Pulang dengan rasa optimis dan was-was, gue menunggu selama 25 hari sampai pengumuman SNMPTN keluar.

Penantian panjang yang penuh dengan kegundahan
Setelah pengumuman sudah keluar pada tanggal 6 Juli. Gue buka situsnya, dan gue masukin nomer peserta dan tanggal lahir gue. Checkmate!! Gue gagal dalam tes ini. Badan gue langsung lemes kayak abis kena bius sunatan. Gue lupa akan semua rasa sakit. Lupa akan dipukuli oleh temen-temen. Lupa sakitnya jatuh dari motor. Bahkan lupa gimana sakitnya putus sama cewek gue (Ah, yang ini lupakan aja udah lah). Semua itu seakan hilang. Hilang akibat hasil pengumuman SNMPTN tersebut. Setelah mengumpulkan cukup energi untuk beranjak dari kursi, gue tutup browser gue, terus gue buka kulkas (Berharap ada tali tambang buat gantung diri, ternyata gak ada). Gue ambil sereal jagung favorit gue, abis itu gue bikin dengan campuran susu.

Sereal gue terasa hambar banget. Gak tau apa itu udah basi apa emang gue masih shock banget abis nerima kegagalan itu. Pikiran gue kosong. Selang beberapa menit, handphone gue bunyi gak henti-henti. Banyak SMS yang masuk dan rata-rata nanya, "Gimana bray?? Dapet gak..?". Jari-jemari gue masih lemes banget jadi gak bisa bales SMS-nya. Kemudian gue tidur. Gue tidur bukan karena ngantuk, tapi karena sudah ingin cepat-cepat melewati malam gelap dan kelam ini.

Poker Face pasca
pengumuman SNMPTN
Keesokan paginya gue bangun. Gue liat Inbox di HP gue makin banyak. Hari-hari gue terasa berantakan. Walaupun orang tua udah ngasih support buat semangat, tapi entah kenapa kali ini beda. Gue udah ngecewain mereka. Biaya-biaya yang gak sedikit itu udah melayang tanpa hasil nyata. Mungkin ini adalah kegagalan paling besar selama gue hidup 17 tahun. Gue gak tau harus ngapain, siang-sore-malem gue habiskan cuma buat baca komik, dengerin musik, dan nonton film di laptop.

Ternyata banyak temen deket gue yang berhasil tembus SNMPTN. Tentu gue seneng, tapi juga sekaligus marah. Marah kenapa gue gak bisa kayak mereka.

Screenshot of the year anak-anak SMA lulusan tahun 2012
Gue pun nyoba kesempatan berikutnya, yaitu jalur Seleksi Masuk Universitas Indonesia (SIMAK UI). Ya, kejadiannya pun sama, Gagal!. Lalu gue nyoba jalur lainnya lagi yaitu Seleksi Masuk Universitas Padjajaran (SMUP). Dan ya, de javu, gue gagal lagi. Saat itu, dunia terasa jauh banget dari gue. Gue merasa cuma kayak jadi cemilan di Jagat Raya ini. Begitu kecil dan tak berarti.

Begitu kecil dan tak berharga.
Rutinitas hari-hari berantakan pun gue lanjutin lagi. Di saat gue lagi nonton film Batman Begins di laptop, gue mendapatkan quote keren dari Alfred yang lagi ngasih semangat ke Bruce Wayne/Batman ketika lagi dihajar habis-habisan sama musuhnya.

- "Why do we fall?" (Mengapa kita jatuh?)
- Si Bruce Wayne pun cuma diam tidak tahu apa jawabannya.
- Lalu Alfred memberikan jawaban yang revolusioner banget:
"So that we learn to rise" (Agar kita belajar untuk bangkit)
The most epic scene in the Batman's Trilogy
 Abis ngeliat scene itu, gue langsung matiin laptop gue. Gue bengong sebentar. Dan berpikir...

Bener juga ya, saat ini gue masih pelajar. Dan pelajar pekerjaannya adalah belajar. Termasuk "Belajar untuk bangkit". Mungkin berbagai kegagalan ini adalah soal dari Yang Mahakuasa. Dan gue harus segera memberikan jawabannya. Ya benar! Jawabannya cuma satu, yaitu Bangkit.

Gue buka meja belajar gue yang gak pernah gue sentuh pasca rentetan kegagalan itu dan gue liat kartu peserta SNMPTN gue. Gue lihat di pilihan jurusan gue. Ya, memang gue gagal di Ilmu Komputer-UGM. Tapi bagaimana kalau di Teknik Informatika-UNDIP?

Selalu ada kesempatan besar walau kadang-kadang tidak terlihat.
Gue buka internet dan nyari apakah ada Jalur Mandiri untuk masuk UNDIP. Ternyata ada! Kemudian gue daftar secara online dan langusng ke bank buat bayar pendaftarannya (Yang ini pakai uang gue sendiri). Selesai itu, gue print kartu peserta dan pulang. Semua itu selesai dalam sehari sehabis nonton film Batman Begins tersebut.

Seminggu kemudian, gue dateng ke tempat tes dan gue kerjakan 100 soal penentu masa depan gue. Entah kenapa saat itu gue yakin banget. Gak kayak waktu ngerjain soal SNMPTN ataupun SIMAK UI. Mungkin benar, bukan masalah apa yang ada di sekitar diri kita, tapi apa yang ada di dalam diri kita. Diri gue udah dipenuhi oleh semangat untuk bangkit. Terlalu penuh sampai-sampai gue kebelet kencing selama tes itu.

Dan Yeah!! Ketika hari pengumuman tiba, menjadi hari paling membahagiakan dalam hidup gue (Setelah hari gue dibeliin PS2, tentunya). Gue diterima di Teknik Informatika-UNDIP.

My huge step
Memang saat itu gak ada yang SMS "Gimana bray?? Dapet gak..?" Atau mention di Twitter, nanya gue tembus UNDIP apa enggak. Walaupun saat itu kebahagiaan gue cuman bisa gue share ke keluarga doang, tapi gue merasa udah cukup. Ternyata memang inilah yang Allah inginkan.

Memang gue gak bisa meneruskan rantai UGM dari kakak gue. Ya, kakak gue kuliah di UGM dan gue gak bisa mengikuti jejaknya. Gue juga gak bisa jadi anak Depok (UI) ataupun jadi anak Bandung (UNPAD). Tapi Allah mengijinkan gue buat jadi anak Semarang (UNDIP).

Jawaban dari pertanyaan "Apakah tujuan hidupmu?" yang gue jawab dengan "Jadi sarjana dari perguruan tinggi negeri" Hampir mendekati kenyataan. Sekarang gue udah keterima di Perguruan Tinggi Negeri dan hanya tinggal menempuh beberapa tahun lagi sebelum menyandang gelar sarjana. Ya! Manusia akan semakin kuat jika impiannya makin besar. Scene antara Alfred dan Bruce Wayne di film Batman Begins tadi menjadi katalis akan kebangkitan gue. Rise!!!

RISE
Jadi, memang wajar jika kita gagal. Satu-satunya cara agar kita bisa lolos dari kegagalan yang ke-1000 adalah mencoba kesempatan yg ke-1001. Tentu temen-temen pasti sudah sering membaca ataupun mendengar berbagai kata-kata bijak mengenai kegagalan. Hanya mencoba berbagi kisah inspiratif. Gue pun sudah banyak mendengar kisah-kisah inspiratif dari orang lain, sekarang waktunya giliran gue. Disini gue gak bakal mencoba menggurui, gue pun sama. Salah satu dari korban kegagalan. Gue sempet patah semangat dan itu gak pantes buat dicontoh. Jatuh kemudian tersungkur sebentar. Tapi ketika jatuh, gue bisa berpikir sejenak.

Mengapa Kita Jatuh? ― Agar Kita Belajar Untuk Bangkit

3 komentar:

  1. kalo msh galau sama apa yg kita jalanin gmna bos?

    BalasHapus
  2. mirip juga kisah kita, haha
    bedanya gue diterima di PNJ

    BalasHapus
  3. so true! so right! sama kak, undip juga akhirnya :D

    BalasHapus