Selasa, 11 September 2012

How to Ride Rollerblade for Dummies

Apa yang pertama kali terlintas dipikiran lu ketika mendengar "Sepatu Roda"?


Olahraga, Permainan, Balapan, Lifestyle, atau ada yang lain? Hhmm mungkin kalau gue yang pertama kali terlintas dipikiran adalah: Filosofi!

Inline Skate atau yang lebih populer disebut dengan Rollerblade (B.Inggris-nya: Sepatu Roda) adalah sesuatu yang sangat terlihat penuh filsafat di mata gue. Penuh filsafat berarti keren. Kalau ada sesuatu yang keren, maka gue wajib ambil bagian. Sebelum ambil bagian, gue harus belajar dulu. Dan disinilah masalah utamanya.


Know the difference
Finally, setelah mendapatkan jam masuk kuliah siang untuk besok, gue bisa begadang juga setelah sekian lama. Ya, karena memang menulis Blog itu paling enak pas malem-malem (Menurut sebuah riset, tingkat kreatifitas manusia meningkat pesat ketika malam hari). Mungkin inilah alesan gue, kenapa Blog gue vakum panjang akhir-akhir ini. Karena gak ada waktu buat begadang!

Kembali ke entri ini. Pertemuan gue dengan Sepatu Roda disponsori oleh gemerlapnya Kota Semarang di "Sabtu Malem" (nickname favorit "Malem Minggu" untuk pemuda jantan) yang sangat menggoda. Ya, Semarang. Ibu Kota Jawa Tengah, kota yang sudah sangat maju. Bersih, Rapi, Nyaman, dan Tertata dengan baik (ditambah tarif parkir yang sangat murah).
Percayalah ini adalah Semarang di malam hari
Niat awal gue main ke hiruk-pikuknya ke kota yang terkenal akan Bandeng Presto ini adalah untuk belanja keperluan kamar kost gue.

Selesai belanja serabutan bareng kedua temen gue yang kayaknya sama-sama katrok di Semarang ini, kami pun istirahat sambil jajan di pinggiran jalan menuju arah Simpang Lima.

Ketika lagi dinner yang cukup membuat dompet anak kost tercabik-cabik perasaannya itu, kami memutuskan untuk menghabiskan Sabtu Malem ini buat bermain Sepatu Roda. Ya, Sepatu Roda adalah ikon gaya hidup para anak muda Semarang. Mulai dari anak kecil yang tatto badannya gambar Teletubbies lagi tawuran, sampai mas-mas yang hobi ngendarain delman sambil kayang, semuanya suka akan Rollerblade (Baca: Sepatu Roda).

Situasi Simpang Lima
Belum ke Semarang kalau belum ke Simpang Lima. Simbol kota ini terisi padat-sesak-penuh oleh para manusia yang bergembira ria merangkai waktu bahagia. Alun-alun Simpang Lima ini terasa sangat bersahabat. Melesatlah kami menuju kesana (Sebenernya macet, jadi harus pelan-pelan)

Amankan motor. Bayar parkir. Dan menyeberang masuk mencari tempat sewa Rollerblade. Dengan harga 15.000/Jam, kami mulai pelajaran "How to Ride Rollerblade for Dummies". Dan Brukkk!! 3 orang dengan keahlian tinggi membuat bayi menangis, tapi minim pengetahuan tentang Rollerblade, sukses jadi perkumpulan idiot malem itu.

Ternyata gak gampang!! Buat berdiri aja udah lumayan susah. Jadi, 5 menit pertama dihabiskan buat gimana caranya agar berdiri dan seimbang dengan baik. Yeah akhirnya, ketika berhasil berdiri, satu kalimat terlintas dipikiran gue "Abis ini, cara jalannya gimana!!??"

Jaga jarak!
Pertama si Eky. Walaupun bocah ini punya riwayat Pramuka yang kuat, tapi ketika sudah di atas Rollerblade, doi terlihat seperti tenda ambruk.

Yang kedua si Ari. Manusia pengidap alergi udang ini ternyata juga alergi sama Rollerblade. Itu terlihat dari banyaknya bengkak yang diperoleh pasca pulang dari Simpang Lima ini.

Wajah-wajah anak kost menderita
Dua makhluk tadi jadi rekan setia gue. Rekan setia karena gak membiarkan gue malu-maluin sendirian jatuh-bangun di tengah Semarang ini. Bayangin aja! Anak kecil yang mungkin masih SD, udah bisa lancar lari-larian pake Rollerblade. Lah gue, jalan empat setengah langkah aja udah langsung jatoh.

Secara otodidak, gue berusaha belajar mengendalikan sepatu seharga 15.000/Jam ini. Mulai dari berdiri, menyeimbangkan, berbelok, berhenti, jalan pelan, jalan cepat, hingga jatuh yang aman. Gue perhatiin gerakan langkah-lagkah kaki setiap manusia-manusia yang jago main Rollerblade ketika lewat di depan mata gue. Entah itu mereka emang lewat atau sengaja mau ngehina gue dengan cara muter-muter sambil gaya-gayaan di sekitar gue.

Ekspresi gue kalo ada yg show-off depan mata gue
Harga diri gue malem itu sudah pada level terendah dalam standarisasi lelaki jantan. Tapi gue gak terlalu mikirin. Yang penting gimana caranya biar gue bisa!

Sebenernya banyak juga yang masih belajar gimana cara main Rollerblade yang bener selain kami bertiga. Kasusnya pun sama. Jatuh bangun jatuh bangun jatuh bangun jatuh bangun epilepsi pingsan.

Setelah setengah jam pertama, gue bisa menangkap makna dari pemainan Rollerblade ini. Permainan ini mengajarkan bagaimana kita agar seimbang. Seperti hidup, kita harus terus bergerak agar hidup ini seimbang. Namun, kadang-kadang kita juga jatuh. Jatuh dan kesakitan.

It's all about balance
Bangkit adalah pilihan. Terserah kita mau cepat-cepat bangkit atau mau lama-lama tergeletak di lantai, mungkin untuk memulihkan stamina atau memang sudah males lagi main Rollerblade. Tapi sadarlah, cepat atau lambat kita akan terlindas dan terinjak. Banyaknya orang yang lalu-lalang membuat orang-orang itu tak sadar telah melindas/menginjak kaki, tangan atau baju kita yang sedang asik-asiknya jatuh di tengah track. Gue pun mengalaminya.

Saat gue jatuh di tengah track dan tersungkur, gue melihat wajah-wajah penuh percaya diri dari Anak-anak dan Pemuda yang dengan ekspresinya terlihat sangat cool meliuk-liuk di atas Rollerblade-nya. Pasti udah jago. Sama seperti jalan menuju impian. Kadang-kadang kita harus rela jatuh dah melihat ke atas. Melihat orang-orang yang dengan sangat bersemangat menjemput tujuan mereka.

Sudut pandang inilah yg akan sering lu temui saat belajar Sepatu Roda
Dan gue yakin, mereka dulu juga sama kayak gue. Belajar dari nol dan jatuh-bangun demi menguasai Rollerblade ini. Kan gak mungkin kalo langsung jago. Jadi kenapa gue harus malu? Toh di Simpang Lima itu juga gak ada yang ngetawain gue. Malah banyak yang ngasih tips dan triknya. Yang pada akhirnya gue cuma bisa jago teori dan nihil skill praktek. DAFUQ

Setelah berhasil berdiri, kita diwajibkan untuk berjalan. Inilah tujuan utama bermain Rollerblade. Gerakan-gerakan halus menjadi kunci lesatan roda-roda ini. Keseimbangan bukan kunci satu-satunya. Banyak faktor, termasuk kesabaran dan ketekunan. Dan lagi-lagi ini juga berkaitan dengan hidup kita. Keseimbangan, kesabaran dan ketekunan. Trisula utama untuk meraih tujuan kita.

Dan satu lagi yang menjadi faktor favorit gue, Kerja sama. Ya, teamwork! Kalau gak ada kerja sama mungkin jumlah gue jatuh menjadi tiga kali lipat lebih banyak. Ketika mau jatuh saat belajar berjalan, gue berpegangan sama temen gue. Pas mau berdiri pun kadang-kadang dibantuin. Bahkan, ada sekumpulan orang-orang yang sepertinya juga masih dalam tahap pembelajaran bermain Rollerblade di Simpang Lima ini, membentuk formasi barisan panjang agar bisa belajar teknik dasar berjalan secara bersama-sama sambil teriak-teriak "Minggir minggir, misi ya mas". Terlihat sangat ritmis dan keren. Walaupun ketika ada satu orang yang jatuh, maka otomatis akan langsung jatuh semua secara berantai, tapi mereka tertawa. Gak kesakitan. Inilah yang menjadi bumbu terbaik "How to Ride Rollerblade for Dummies", gak usah malu kalau jatuh, Tertawalah!

Kronologi How to Ride Rollerblade for Dummies
Setelah hampir seperempat jam, dari 3 orang bodoh minim skill Rollerblade, akhirnya menjadi 3 orang bodoh minim stamina. Jujur! Latihan belajar Rollerblade selama 45 menit itu lebih capek dari bermain futsal berdurasi satu jam.  Bener-bener menguras tenaga. Rasanya kayak mau gak sadar (Oke, lebay)

Di saat capek gue udah maksimal dan gue mencoba istirahat lesehan sebentar di pingir track, gue melihat banyak kesempatan dalam kesempitan yang dimanfaatkan oleh para kaum Adam. Awalnya mereka pura-pura jatuh pas lagi belajar Rollerblade, tapi itu tangan mereka landing-nya kok malah ngawur ya. Melihat prospek dari modus tipe baru yang sangat menjanjikan seperti ini, akhirnya stamina gue full lagi dan mencoba teknik "gak penting" tersebut  (Don't try this at home, kids)

Wajah Mas-mas yg abis modusin cewek di Simpang Lima
Semangat berapi-api nan membara pun harus dipatahkan pas gue liat jarum panjang di jam tangan gue karena waktu sewa kami udah hampir habis. Kamera pun dikeluarkan untuk men-capture momen penuh keringat ini.

Setelah menghabiskan waktu berkualitas itu, akhirnya kami pulang. Jam setengah 11 pun Simpang Lima masih ramai. Ada Rollerblade, skuter, skateboard, battle of dance dan lain-lain. Karena malem ini, buanglah mindset "Kalau orang Jawa itu kampungan". Justru kita yang kampungan karena mikir hidup mereka kampungan. Adat urbankultur terasa sangat kental disini.

Malem itulah yang mengajarkan gue makna dan filosofi dari Rollerblade sesungguhnya. Padahal dulu gue cuma mandang Rollerblade yaa cuman permainan Sepatu Roda, gak lebih gak kurang. Tapi ada arti dan tujuan kuat dibaliknya. Sebelum jago dan mendapatkan apa yang kita inginkan, kita diwajibkan untuk jatuh dan bangun. Tak terelakan juga kita harus terinjak dan terpaksa minggir sebentar untuk membiarkan orang lain lewat. Sabar dan Tekun itulah karakter yang coba dibangun kala belajar permainan ini. Pada akhirnya, kita akan bisa berlari. Ya, itulah tujuan gue. Berlari di atas Rollerblade! Gue akan balik ke Simpang Lima ini besok dan besoknya lagi buat terus belajar dan berlatih. Mungkin memang malem ini skill gue belum ada apa-apanya, tapi kelak gue akan bisa. Bisa dan berlari!! Ya, walaupun isi dompet gue  yang harus menjadi tumbal utamanya. Anak kost, anak kost....
Mungkin suatu hari isi dompet kami akan menyerah, tapi kami tidak akan pernah menyerah. Yeah!!

9 komentar:

  1. MINGGIR, MINGGIR, MISI MAS !!!!! HAHAHAHA

    BalasHapus
  2. tulisan yang sangat lucu tapi penuh falsafah. Tahniah :-)

    BalasHapus
  3. Ya Allah. Dibikin ngakak sama tulisan ini. Dan kerennya, nggak cuma ngakak, tapi dapet ilmu juga.
    Sempet heboh juga karena tempatnya di Semarang. Foto yang lampu itu di Gombel kan?
    Bener banget. Tiap malem minggu Kawasan Simpang lima, jalan Pahlawan pasti penuh dan isinya pada main Rollerblade dan kawan-kawannya. Bahkan sekarang ketambahan sepeda.
    Sekali lagi makasih ilmunya. XD

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. maaf.. baru baca buku internet for dummies juga.. jadi diulang ulang gitu yak :)
    nice post lah pokoke..

    BalasHapus